SEJARAH

SEJARAH JRA (Jam’iyyah Ruqyah Aswaja) 

JRA (Jam’iyyah Ruqyah Aswaja) lahir di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Diwek Jombang didirikan oleh kader muda Nahdlatul Ulama’ (NU) sekaligus ketua PKPNU PCNU Jombang angkatan pertama yaitu ‘Allamah ‘Alauddin Shidiqy yang Akrab di Sapa dengan sebutan Gus Amak Pada tanggal 15 Januari 2013. Pada Awal-nya bernama “Ruqyah Syar’iyyah An-nahdliyyah”, kemudian berganti menjadi Jam’iyyah Ruqyah Sunan Kalijaga (JRS) karena memang lahir di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga sebagai Unit Sosial Thibb An-Nabawi di pondok pesantren tersebut, Kemudian karena minat masyarakat luar pesantren untuk menjadi praktisi semakin banyak sehingga diadakanlah ijazahan/pelatihan di luar kabupaten Jombang untuk kali pertama-nya yaitu di kabupaten madiun pada tanggal 31 Juli 2016, sehingga nama Jam’iyyah-nya pun berganti menjadi RAJ (Ruqyah Aswaja Jatim).


 Seiring dengan berjalan-nya waktu dan para peminat untuk menjadi praktisi ruqyah mulai kian banyak sehingga pada akhirnya pada tahun 2017, Gus Amak bermodalkan tekad dan ilmu keorganisasian yang di dapat dari PCNU Jombang membentuk Pengurus Pusat yang terdiri dari Alumni Pelatihan RAJ yang saat itu hanya ada sekitar 5 Cabang/Kota di Jawa Timur (Jombang, Madiun, Pasuruan, Malang dan Nganjuk).


Kemudian pada Awal 2017, peminat praktisi ruqyah kian membludak sehingga pengurus pusat memutuskan mengganti nama RAJ menjadi JRA (Jam’iyyah Ruqyah Aswaja) dan berbadan hukum resmi kemenhunkam SK Kemenhunkam RI No. AHU-0013492.AH.01.04.Tahun 2017. Di karenakan Resmi bernama JRA semenjak thn 2017 maka Milad-nya pun di hitung mulai tahun 2017.


Perkembangan JRA pun kini kian pesat. Tercatat ada sekitar 35 Pengurus Anak Cabang (PAC), 68 Pengurus Cabang (PC), 1 Pengurus Cabang Istimewa (Turki), 8 Pengurus Wilayah (PW) dan 20 Anggota Pengurus Pusat. Total keseluruhan anggota JRA hingga saat ini (bulan Agustus 2018) sekitar 3.750an anggota, yang sudah mendapatkan Kartu Tanda Anggota Jam’iyyah Ruqyah Aswaja (KARTA JRA) sekitar 1,500 anggota dan memungkinkan terus berkembang untuk kemaslahatan Umat dan pengabdian terhadap bangsa dan negara.


SEJARAH JRA CABANG DEMAK

PRAKTISI AWAL JRA DEMAK


Pelatihan & Ijazahan Jam'iyyah Ruqyah Aswaja oleh Sang Mujiz Gus Allama Alaudin Shiddiqi pertama kali dilaksanakan di PP. TAHFIDH ANAK DARUL MUSTOFA asuhan KH. MUSLIH, AH Krajan Jogoloyo Demak.


Pelatihan pertama tidak terlepas dari niat, tekad, serta peran prkatisi-praktisi awal JRA alumni Pelatihan kab. Kendal. Diantaranya adalah KH. Muslih, Mbah K. Kholiel Mardhi Grobogan, ust. H. Muhajir, ust. Maftuhin, dan non praktisi Khoirul Huda.


Paska pelatihan, beberapa kali praktisi mengadakan pertemuan untuk membahas hal-hal penting dan langkah-langkah strategis untuk membentuk kepengurusan cabang JRA di wilayah kab. Demak.


Dari beberapa pertemuan tersebut disepakati beberapa hal, diantaranya adalah :

1. Menetapkan 14 Mei 2017 sebagai hari lahir JRA Demak

2. Memilih K. KHAMBALI sebagai ketua JRA Demak yang pertama

3. Diputuskannya BARUKLINTING sebagai nama tim JRA Demak.


Perjalanan berliku mewarnai perjalanan JRA Demak yang masih seumur jagung tersebut, bongkar pasang kepengurusan terjadi beberapa kali, bahkan ketua JRA Demak sejak 2017 sampai 2018 berganti sebanyak tiga kali

1. K. KHAMBALI

2. GUS RIZA ZAINUDIN

3. UST. AHMAD ANWAR, SHI


Kepengurusan Ust. Ahmad Anwar, SHI lah yang pada akhirnya di SK kan oleh Pengurus Pusat JRA per tahun 2018-2023 M.


Tidak hanya itu, ujian di awal berdirinya JRA Demak sangat luar biasa. Ujian yang bersifat dhohir maupun yang bersifat ghaib. Pernah pada saat kegiatan Ruqyah Massal di salah satu desa di kecamatan Kebonagung, ada salah satu warga yang tidak menghendaki kegiatan Ruqyah Massal di Masjid tersebut. Tidak tanggung-tanggung, Beliau membawa SABIT untuk membubarkan kegiatan Ruqyah Massal yang sudah berjalan tersebut. Alhamdulillah  bi idznillah melalui Mbah Kholiel Mardhi, orang tersebut diajak bicara baik-baik dan akhirnya diapun luluh, membiarkan kegiatan Ruqyah Massal berjalan.


Ujian yang ghaib pun tidak hanya sekali dua kali, namun berkali-kali. Salah satunya adalah ketika Pra kegiatan Ruqyah Massal di salah satu desa di Kec. Wonosalam. Seperti biasa, sebelum melaksanakan kegiatan Ruqyah Massal, H-1 panitia lokal bersama Pengurus mengkondisikan lokasi, baik dari segi persiapan materiil, juga persiapan immateriil. Ketika Tim sedang menetralisir tempat, tiba-tiba salah satu Praktisi ada yang muntah darah dan kedorong jatuh. Alhamdulillah bi idznillah, hal tersebut teratasi dengan baik.


Meskipun di awal perjalanan JRA Demak dengan modal Praktisi hanya kurang dari 15 orang, namun tekad bulad untuk mengembangkan JRA di wilayah kabupaten Demak sudah bulat, ibarat kata RAWE-RAWE-RAWE RANTAS MALANG-MALANG PUTUNG, Alhamdulillah bi idznillah JRA Demak sampai sekarang masih eksis dan terus berbenah untuk selalu berkembang lebih baik.


Semoga melalui berkah do'a guru kami Gus Allamah Alauddin, seluruh praktisi, dan semuanya memberikan kekuatan untuk JRA Demak agar tetap ISTIQOMAH mendakwahkan Al-Qur'an sebagai Syifa' di bawah naungan Lembaga Dakwah NAHDLATUL ULAMA